Mengapa puja-puja itu masih menyelubungi sosokmu?
Sedang, masa-masa menelan jeda-jeda waktu kita
Waktu kosong... tanpa sketsa-sketsa
Ku tak terpisah; cinta Rabb-Mu yang ingin kau capai (benarkah?)
Tapi...
Tidakkah kau sadari, aku sedang tertatih-tatih meraih lail-lail yang tak lagi berairmata?
Tidakkah kau dapati kelelahanku mengasuh pasang kornea liar yang tak bergaudhul basher?
Tidakkah kau tahu, makin hari sekerat dagingku membusuk?
bau amis menyeruak di seantero jagad raya
pun tercium oleh hidungmu yang mengendus
Tidakkah kau peduli, aku renta menjadi bidadari?
Mengapa tidak kau cadari aura syurga yang kau miliki dengan tirai tawadhu?
Bila satu nama Zahra telah gugur di istikharahmu dan menjadi sanpah
Hawa ini begitu lemah rukhiyahnya
Hawa ini begitu miskin istiqomahnya
Dan senja kian menghampiri musabahnya yang nyaris kering-kerontang
(Andai kau mau tahu...)
Sebagian hari-hariku menzinai ghirah tarbiyahku
Hanya karna kau yang sempurna mempolesi diri dengan pesona
Mengapa tak sekalian kau campakkan dan nistakanku?
Daripada jilatan-jilatan neraka kan mencumbui tubuhku; kelak
Tak berniatkah kau memadamkan cahayamu yang mempijari seluruh jiwa
(Sebelum terang-temerangnya imanku yang padam)
Aku kehilangan wajah wudhu-wudhu itu
Kini............
Kini............
Kini............